Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti diskusi media dengan tema “Laki-laki Sebagai Agen Perubahan Mewujudkan Kesetaraan Gender dan Penghapusan Kekerasan Seksual” yang diadakan oleh Rutgers WPF Indonesia.

Awalnya saya merasa skeptis. Halah, apa sih yang bisa dilakukan atau dihasilkan diskusi-diskusi seperti ini buat para korban? Jangan-jangan hanya sekadar diskusi, dan jadi wacana belaka. Yeah, sebagai seorang Survivor KDRT yang pernah hidup dalam sebuah hubungan yang toksik selama bertahun-tahun dengan polosnya, saya memang seskeptis itu.Belum lagi trauma yang selama ini saya pendam dan coba buang ternyata tak juga hilang hingga detik ini. Betapa tidak, baru saja bergabung via zoom dan mengikuti diskusi, air mata saya langsung berderai tak henti-henti. sulit distop. Seluruh kenangan ambyaarrr berhamburan keluar.

Beberapa bahasan bahkan melempar saya pada satu ketika, tiga belas tahun yang lalu, saat sebuah peristiwa pernah mengguncang kehidupan saya dan anakanak. Ketika itu saya mengalami KDRT. Hanya karena emosi yang memuncak dipicu oleh rasa cemburu dan hal-hal sepele lainnya, suami saya bisa dengan mudahnya memukul, menampar dan menendang saya di depan anak-anak. Mengguyur saya dengan seember air, atau memukul bagian belakang saya dengan tang cuma dengan alasan, “iseng, soalnya gemes sih” sudah jadi kebiasaannya sehari-hari.

Seperti baru kemarin rasanya. Ketika saya harus melihatnya mengamuk, menghancurkan banyak keyboard komputer yang ia lemparkan ke dinding, ia pukulkan ke kepalanya sendiri, atau ia banting hingga hancur berkeping-keping. Memang, kami dijodohkan karena permintaannya. Sehabis melampiaskan emosinya yang meledak-ledak, biasanya ia akan memeluk saya, menangis sambil memohon maaf bahkan sampai mencium kaki saya untuk menunjukkan penyesalan. Berkali-kali saya maafkan ia, dan berkali pula kejadian itu terulang lagi. Anak-anak cuma bisa mengintip dari balik jendela ketika melihat ibu disiksa.

Hafidz pernah cuma bisa terduduk di sudut kamar sambil menundukkan kepala dan menutup kedua telinganya. Saya mencoba bertahan, tapi perkataan seorang sahabat begitu menohok saya, “jangan-jangan kamu yang sakit jiwa, Neng. Suka kalau disiksa ya? Makanya kamu diam saja dan terus memaafkan. Kamu nggak kasihan sama perkembangan jiwa anak2?”

Begitulah, di suatu sore, ketika untuk kesekian kalinya saya disiksa secara fisik dan psikis, saya tak lagi memedulikan permohonan maafnya kemudian. Saya memilih berkemas, mengajak kedua anak saya untuk pindah ke rumah orangtua, dan berkata kepada diri sendiri, “Cukup sudah.” Mungkin keputusan saya dianggap salah oleh sebagian orang. Mungkin saya memang yang harus terus mengalah, tapi saya yakin, PEREMPUAN lahir bukan untuk disakiti.

Ketika seorang perempuan menjadi korban KDRT, kemudian ia bermaksud untuk menceritakan pengalamannya kepada banyak orang hingga bisa dijadikan pelajaran kehidupan, Posisinya ternyata tidaklah mudah. Ketika ia akhirnya memutuskan untuk #SpeakOutLoud, mengakui bahwa selama pernikahan ternyata sang suami hanya menjadikannya sebagai samsak belaka, banyak orang langsung menudingnya dengan alasan tak pantas seorang perempuan menceritakan aib suaminya. Namun ketika ia memilih diam, luka itu terlalu dalam dirasakan, dan fitnah pun datang bertubi-tubi.

Seharusnya dengan bukti-bukti yang ada ia bisa melaporkan ke pihak yang berwajib, misalnya. Namun terkadang hati perempuan sangat lembut. Ia tak akan pernah tega melihat orang yang dicintainya dihukum meski hukuman tersebut setimpal dengan apa yang diperbuat. Terkadang perempuan pada akhirnya memilih pergi dalam diam. Membiarkan seluruh semesta menjadikannya kambing hitam, penyebab segala permasalahan yang ada, hingga layak diperlakukan semena-mena oleh seseorang yang senyatanya adalah pemegang kunci surganya.

Sebuah pertanyaan berkelindan dalam kepala. “Apakah dengan diam, segala sesuatu memang akan teredam dan kekerasan akhirnya padam?”

Ketika saya mencoba bersuara, menceritakan kisah saya untuk dijadikan pelajaran bagi perempuan lain, banyak pihak menuding saya sebagai pihak yang salah. bahkan sebuah kalimat hingga detik ini tak mampu saya hilangkan dari ingatan, “Kamu kali yang salah! Suami nggak akan mukulin istri kalau nggak ada sebab! Coba kamu introspeksi diri, jangan malah teriak membuka aib suami. “

Ngenesnya, tudingan tersebut justru datang dari sesama perempuan yang seharusnya mampu untuk lebih mengerti isi hati wanita lainnya. Bahkan kedua orangtua saya pun memilih diam dan pura-pura tidak tahu, dengan alasan, “Itu masalah intern kalian. Selesaikan sendiri secara baik-baik.”

Reaksi seperti ini, tidak hanya saya alami seorang diri. Ada begitu banyak korban kekerasan dalam rumah tangga yang akhirnya memilih diam karena malu, dan takut. Bukan hanya takut terhadap si pelaku, namun juga takut menghadapi reaksi dari masyarakat dan lingkungan yang mungkin tidak seperti yang diharapkan.

Alhamdulillah, Rutgers WPF Indonesia hadir dengan Prevention + atau serangkaian aktivitas preventif agar tidak kadung terluka parah seperti yang saya alami. Rutgers WPF Indonesia tampaknya sangat paham problem yang dirasakan oleh para korban.

Di Indonesia yang masih kental dengan kultur patriarki, lelaki umumnya memiliki kontrol dan kuasa terhadap anggota keluarga yang lain. Konstruksi sosial yang lekat dengan budaya patriarki pula yang melanggengkan kekerasan berbasis gender. Minimnya keterlibatan laki-laki dalam upaya pencegahan kekerasan berbasis gender merupakan salah satu faktor yang membutuhkan perhatian lebih, dimana sebagian besar program-program yang berkembang selama ini masih berfokus pada pemberdayaan perempuan dan belum cukup menyasar akar persoalannya, yaitu norma dan relasi gender laki-laki dan perempuan.

Untuk itu Rutgers WPF Indonesia melalui program Prevention+ yang merupakan kelanjutan dari program MenCare+ ingin mewujudkan kesetaraan gender dan penghapusan kekerasan seksual sebagai suatu kondisi yang ideal bagi pemenuhan hak-hak dan kesehatan seksual dan reproduksi dan membongkar norma-norma gender yang ada.

Prevention+ bertujuan mengurangi kekerasan terhadap perempuan serta meningkatkan partisipasi ekonomi perempuan dengan pendekatan pelibatan laki-laki sebagai agen perubahan dan mempromosikan nilai maskulinitas yang positif berdasarkan nilai kesetaraan dan nonkekerasan.

“Kesetaraan gender tidak dapat dicapai tanpa keterlibatan laki-laki dan remaja laki-laki dalam mengurangi bahkan menghapus kekerasan berbasi gender sehingga dengan mengajak mereka melalui program Prevention+, mereka dapat teredukasi dengan baik dan kami percaya bahwa laki-laki juga adalah agen perubahan untuk menghentikan kekerasan berbasis gender “. ujar Ingrid Irawati, SGBV PV Rutgers WPF Indonesia dalam Diskusi Media secara online bertema “Laki-laki Sebagai Agen Perubahan Mewujudkan Kesetaraan Gender dan Penghapusan Kekerasan Seksual” Senin, (26/10/2020).

Dengan menggandeng mitra lokal di antaranya Yabima, Sahabat Kapas, Rifka Annisa, Damar, dan Rahima, program Prevention+ sudah berjalan sejak tahun 2016 menyasar 4 wilayah besar di Indonesia yaitu Jakarta, Bandar Lampung, Solo dan Yogyakarta. Program Prevention+ bersifat mencegah atau mengurangi potensi bahaya terabaikannya prinsip kesetaraan gender dan bahaya yang mengancam hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi.

Beberapa kegiatan yang dilakukan Prevention+ selama 5 tahun ini, diantaranya yaitu:

  • Diskusi komunitas reguler untuk empat kelompok (perempuan dewasa, laki-laki dewasa, perempuan remaja, dan laki-laki remaja) menggunakan modul-modul yang mengangkat tema kesetaraan gender dan pelibatan laki-laki;
  • Konseling Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS) termasuk pendampingan psikososial dan hukum;
  • Kampanye melalui berbagai media, termasuk media sosial;
  • Advokasi dari tingkat desa hingga ke tingkat nasional, termasuk menghasilkan beberapa Satgas Penanganan Kekerasan Perempuan dan Anak di wilayah Lampung dan wilayah lainnya.

setelah saya mendengar dan memahami program-program yang dilakukan oleh @rutgerswpfindo dalam rangka upaya menghapus kekerasan dalam rumah tangga terutama kekerasan seksual, saya merasa sangat lega. Akhirnya, mimpi-mimpi saya selama ini menemui jawabannya.

Ya, sejak dulu saya ingin sekali ada pembekalan untuk anak2 muda yang akan menikah, sebuah pendampingan tentang bagaimana mengendalikan emosi mereka sebagai suami dan istri ketika banyak masalah terjadi dalam rumah tangga barunya. Karena tidak semua calon pengantin yang sudah siap menikah, siap pula secara mental lahir batin menghadapi bahtera luas di depan sana. Kebanyakan hanya siap secara keinginan dan materi. Hal lain? lihat saja nanti!

Banyak anggapan bahwa laki-laki adalah pelaku dalam sebuah KDRT sedang perempuan kebanyakan adalah korbannya. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Karena baik laki-laki ataupun perempuan memiliki kemungkinan yang sama dan setara sebagai korban ataupun pelaku.Saya punya banyak teman laki-laki yang adalah korban KDRT dari sang istri, Lucu? sebenarnya tidak. malah miris. Jangan langsung menuding si suami lemah dan pengecut. Terkadang mereka membiarkan diri mereka jadi korban, karena sebagai lelaki dan suami, mereka diwajibkan mengalah dan sabar.

Saya juga termasuk orang yang sangat mendukung bahwa perlu adanya bimbingan dan edukasi untuk pelaku KDRT siapapun itu, bukan hanya hukuman pidana semata. Karena, mereka yang melakukan KDRT pastilah orang yang “sakit” batinnya, memiliki luka masa lalu yang kita tak pernah tahu. Bisa jadi juga mereka adalah orang yang tidak pernah tahu bagaimana idealnya bersikap terhadap pasangan dan anak2nya karena tidak dibekali oleh orangtuanya atau bahkan mereka hidup dalam rumah tangga yang memang juga dilingkupi dengan kekerasan.Pelaku, dahulu adalah juga korban. itu yang saya percaya. Karena itu, hukuman pidana tidaklah cukup.

kalau yg diperhatikan hanya korban KDRT-nya saja dalam hal ini kebanyakan perempuan, bagaimana hukuman untuk si pelaku dlm rangka memberikan efek jera? Apakah cukup dengan masuk penjara? apakah setelah keluar, ada jaminan dia pasti berubah dan tidak melakukannya lagi terhadap istri barunya? Mereka tidak butuh penjara. para pelaku KDRT ini perlu mendapatkan bimbingan dan konseling untuk bisa memahami bahwa apa yang dilakukannya adalah SALAH.Ketika terjadi kasus KDRT baik secara fisik, verbal maupun seksual dalam sebuah rumah tangga, perlu segera dilakukan rehabilitasi terhadap seluruh anggota keluarga yang ada. Baik terhadap istri sebagai korban, suami sebagai pelaku (atau sebaliknya), juga terhadap anak-anak yang sering menjadi saksi korban.

Tapi, pernah ada seorang teman berkomentar terhadap kasus KDRT yang saya alami, “Itu karena teteh salah pilih. Kalau teteh dekat dengan agama, memilih pasangan dengan pertimbangan agama yaitu melihat akhlaknya, Allah nggak akan memberikan pasangan yang membuat teteh nggak bahagia”

lho, saya punya lho beberapa teman yang di luar adalah seorang public figur, tokoh agama yang sangat terlihat sangat sholeh punya ribuan jamaah di seluruh Indonesia, tapi di dalam rumahnya ada seorang istri yang seringkali menangis dalam diam karena tubuhnya sering babak belur dipukuli oleh sang suami yang di luar justru dikenal sebagai tokoh pembela hak asasi perempuan.

Menjadi korban KDRT, tidak selamanya diakibatkan karena kita salah pilih. Allah punya alasan lain mengapa Dia menakdirkan seseorang mendapat musibah seperti itu. Ujian Allah bisa datang dalam beragam bentuk, untuk SIAPA SAJA. jadi, ketika ada seseorang mendatangimu, bercerita bahwa ia adalah seorang korban KDRT, please jangan langsung dihakimi.

Dalam kesendirian, perempuan sebagai korban KDRt bisa memilih menjadi hancur lebur babak belur, ataukah menjadi batu yang keras, dingin, dan beku. Pilihan ada di tangannya. Untuk meratap ataukah kembali melangkah meski tertatih menanti saat ketika ia dapat kembali melesat terbang tinggi dengan sebelah sayapnya yang kembali terluka.Tak terbayangkan cemooh yang akan menghampirinya bertubi-tubi dari segala penjuru mata angin. Menudingnya sebagai biang keladi, penyebab segala angkara sang suami. Namun, bukankah Tuhan tidak pernah tertidur sedetik pun?

Jadi , hanya kepadaNYA ia kembali. Meski perempuan itu mendapatkan hadiah tertinggi, yaitu segala doanya akan dikabulkan seketika seburuk apapun doa tersebut, doa orang yang terdzalimi. Akan tetapi, hadiah tersebut sama sekali tak digunakannya. Ia memilih untuk mendoakan segala kebaikan tercurah atas diri sang lelaki. Tak lebih, hanya mengharap doa itu akan kembali pula untuknya. Kuat, kuat. Melupakan segala intimidasi fisik dan mental yang diperolehnya selama ini. Ia tidak bodoh, ia bukan tidak belajar dari pengalaman. ia hanya harus kembali menerima takdir tak terelakkan ini sebagai bagian dari catatan kehidupannya, agar kelak ketika harus pulang kembali kepada Sang Pencipta, tubuhnya bisa bersih dari segala dosa. Semoga.

Written by Nenghujan

Leave a Comment