www.nenghujan.com – Menjadi bagian dari sebuah keluarga yang memiliki riwayat penyakit kanker tentu bukanlah hal yang mudah. Beberapa tahun ini, satu persatu anggota keluarga wafat diakibatkan oleh kanker, salah satu penyebab kematian nomor satu di negara-negara maju. Sebut saja, Kakak sepupu saya yang meninggal dunia karena kanker kelenjar getah bening, satu lagi kakak sepupu meninggal karena kanker Rahim, budhe meninggal terkena kanker hati, dan yang paling tak terlupakan adalah kematian adik lelaki satu-satunya yang paling saya cintai karena kanker pankreas. Bagaimana saya tidak jadi paranoid karena hal tersebut?

Saya sendiri sempat menderita myom beberapa tahun lalu, untungnya saat ini sudah lenyap dan semoga tidak datang lagi. Memang, kanker ini bisa datang kapan saja kepada siapa saja tanpa pernah bisa diduga. Vidi Aldiano misalnya, datang ke dokter untuk memeriksakan suaranya, siapa sangka ia justru didiagnosa terkena penyakit kanker ginjal stadium 3 sementara selama ini ia selalu menerapkan pola hidup sehat dalam kesehariannya?
Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan oleh jurnal medis The Lancet (2019), kanker di negara-negara maju kini membunuh lebih banyak orang ketimbang penyakit jantung. Tak hanya itu, kanker telah menjadi penyebab nomor satu kematian di berbagai negara maju, menggeser posisi penyakit jantung yang beberapa tahun terakhir juga sangat ditakuti.

Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel secara tidak terkendali yang memiliki kemampuan untuk menyusup dan merusak sel-sel sehat di dalam tubuh. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa kanker menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak setelah jantung dan stroke. Prevalensi penderita kanker di Indonesia adalah 1,4% dengan jumlah total 347.792 penderita. Di Jawa Barat, masyarakat yang menderita penyakit kanker bertambah banyak dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Data dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada 2017 menyebut, sebanyak 21 dari 100.000 orang di Jawa Barat diprediksi menderita penyakit kanker.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan) 2018, kanker payudara menjadi yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia (16,7%), lalu diikuti oleh kanker serviks (9,3%), paru (8,6%), kolorektal (8,6%), dan hati (5,3%). Di antara sejumlah kasus kanker itu, kanker kolorektal adalah yang paling tidak banyak diketahui masyarakat umum. Gejalanya yang tersamar dengan penyakit lain yang lebih umum diduga menjadi penyebab mengapa utama kanker kolorektal tak banyak diketahui.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengikuti Media Discussion tentang Kanker Kolorektal yang diadakan oleh Parkway Cancer Center dan CanHope di Paskal 123, Bandung. Kanker kolorektal adalah jenis kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon), atau pada bagian paling bawah dari usus besar yang terhubung ke anus (rektum). Kanker ini juga dikenal dengan sebutan kanker kolon atau kanker rektum, tergantung pada lokasi tumbuhnya kanker. Gejala kanker kolorektal seringkali dirasakan oleh pasien ketika kanker sudah berkembang jauh. Pada Survei Globocan 2018, kanker kolorektal adalah kanker nomor dua paling banyak diidap oleh pria setelah kanker paru di Indonesia. Namun di Singapura, kanker kolorektal dideteksi merupakan kanker yang paling umum ditemukan pada perempuan.

Kebanyakan kanker kolorektal bermula dari polip usus atau jaringan yang tumbuh di dinding dalam kolon atau rektum. Namun, tidak semua polip akan berkembang menjadi kanker kolorektal. Kemungkinan polip berubah menjadi kanker juga tergantung kepada jenis polip itu sendiri.

Seperti kanker pada umumnya, kanker kolorektal sulit dideteksi pada tahap dini karena gejalanya yang tak banyak dirasakan. Pada tahap awal perkembangannya, kanker kolorektal mungkin tidak menyebabkan gejala apapun. Ketika kanker dalam usus ini tumbuh atau menyebar, gejala-gejala yang dirasakan lebih bervariasi sesuai dengan ukuran dan lokasi kanker. Gejala umum adalah munculnya darah dalam tinja, kebiasaan buang air besar yang berubah-ubah, rasa sakit yang terus-menerus di perut, kembung atau kram, perasaan buang air besar tidak dikosongkan sepenuhnya, dan tiba-tiba penurunan berat badan yang drastis.

Dalam penanganannya, kanker kolorektal sebenarnya dapat didiagnosis melalui skrining, salah satunya dengan pemeriksaan tinja ataupun kolonoskopi. Kolonoskopi melibatkan penggunaan tabung tipis dan fleksibel yang dikenal dengan nama kolonoskop. Alat itu dimasukkan melalui dubur sehingga memungkinkan dokter untuk memeriksa lapisan dalam usus besar. Biasanya dilakukan dengan sedasi ringan, kolonoskopi membutuhkan waktu sekitar 15 menit; polip jinak dapat dihilangkan selama proses.

Tak hanya itu, kita juga harus waspada terhadap Kanker ginjal, kanker yang saat ini diidap oleh Vidi Aldiano. Selain kanker kolorektal, ancaman kanker ginjal juga tak kalah membahayakan. Meski data menyebut bahwa sebagian besar penderita kanker ginjal adalah orang berusia 50 tahun ke atas, namun tak berarti generasi muda tak luput dari kanker ini. Penyanyi lagu “Nuansa Bening” Vidi Aldiano adalah salah satu contoh nyata bahwa kanker ginjal dapat menyerang siapapuntanpa mengenal usia.

Di Indonesia, kanker ginjal menempati urutan ke-22 dari semua jenis kanker yang menyerang penduduk Indonesia (Globocan, 2018). Terdapat 2.112 kasus kanker ginjal yang terjadi selama 2018 dengan tingkat kematian mencapai setengahnya. Keberadaan kanker ginjal ini biasanya luput dari pengamatan. Gejala kanker ginjal sering muncul terlambat karena ginjal terletak di rongga perut yang besar sehingga memungkinkan tumor bersembunyi tanpa menunjukkan tanda-tanda yang terlihat. Itu sebabnya, kanker ginjal sering dIsebut sebagai si pembunuh senyap (silent killer).

Written by Nenghujan

Leave a Comment